Bisnis.com, JAKARTA -- Pada 1000 hari pertama kehidupan anak adalah periode yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, di mana asupan yang masuk dalam tubuh anak akan sangat menentukan tumbuh kembang anak hingga masa depannya.
Lantas seperti apa pola asupan nutrisi yang diperlukan untuk anak, terutama pada saat anak mulai makan atau makan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) dan bagaimana mengatasi kendala yang ada?
Dokter Cut Nurul Hafifah, SpA(K), Anggota Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI menjelaskan bahwa 1000 hari pertama kehidupan anak bukan dimulai sejak dia lahir, tapi sudah dimulai sejak dalam kandungan selama 270 hari, kemudian ditambah dengan tahun pertama dan tahun kedua, sehingga totalnya mencapai 1000 hari.
"Di dua tahun pertama kehidupan, terjadi pembentukan sel-sel saraf itu mencapai puncaknya dan setelah dua tahun pertama kehidupan tidak akan sebanyak sebelumnya. Sehingga ketika ada suatu gangguan pada dua tahun pertama kehidupan seorang anak, ditambah tadi dalam kandungan, maka dia potensinya, dari kecerdasan, potensi pertambahan berat badan dan tinggi badannya akan mempengaruhi potensi dia di dewasa nanti," jelasnya dalam Media Briefing, Selasa (29/10/2024).
Oleh karena itu, selain menjaga kesehatan dan asupan gizi ibu selama masa kehamilan dan menyusui, persiapan yang matang juga diperlukan menjelang periode anak MPASI.
Apa saja yang harus terkandung dalam MPASI?
Dr. Nurul menegaskan, setelah masuk periode MPASI, saat anak mulai bisa makan, orang tua tidak bisa hanya memberikan satu jenis makanan, misalnya yang mengandung karbohidrat saja, protein saja atau hanya lemak saja.
"Jadi semuanya harus ada, seorang anak yang sekarang banyak didengungkan untuk makan protein hewani. Tapi kalau makan protein hewaninya banyak, lalu karbohidratnya dikurangi, tentunya ini akan mempengaruhi pertumbuhan dan metabolisme anak tersebut juga," jelasnya.
Dr. Nurul menjelaskan, apabila anak tidak mendapatkan karbohidrat yang cukup untuk energinya, maka protein akan diolah untuk menjadi energinya di dalam tubuh. Hal ini tidak baik untuk membentuk masa otot dengan baik.
"Kalau begitu nanti tidak bisa dipakai untuk menaikkan berat badan dan panjang badannya. Sehingga semua komponen ini harus ada," tegasnya.
Dr. Nurul memberi contoh, melihat orang Indonesia yang harus makan nasi, maka bisa menambahkan protein pada anak dengan menambahkan telur. Selanjutnya, untuk menambah komponen lemaknya, bisa ditambahkan santan.
"Kenapa kita perlu protein hewani? Karena ada komponen asam amino esensial yang terkandung di protein hewani yang lengkap, terutama komponen leucin ini sangat penting untuk menaikkan tinggi badan anak. Jadi kalau dia leucinnya sedikit, maka kemampuan untuk menaikkan tinggi badannya akan berkurang dibandingkan dengan protein lain yang leucinnya lebih tinggi," jelasnya.
Jika dibandingkan kadar leucinnya, lanjut Dr. Nurul, susu sapi mengandung kurang lebih 93mg per gram protein. Lalu telur 82mg, daging sapi ada sekitar 79mg.
"Ternyata telur pun sama baiknya, bahkan lebih baik dibandingkan dengan makan daging dari sisi sumber protein. Tapi daging adalah sumber zat besi yang baik, oleh karena itu seorang anak tidak bisa hanya makan satu jenis makanan saja. Anak itu harus makan bervariasi, karena masing-masing makanan punya keunggulannya masing-masing," lanjutnya.
Namun demikian, dengan kandungan protein yang cukup, makan telur saja sudah sangat baik untuk mencegah stunting, dan bahwa pencegahan stunting bisa dengan makanan yang ada sehari-hari di sekitar kita.
"Tapi yang perlu diingat adalah target edukasi protein hewani itu adalah sebagai pencegahan, bukan tata laksana menangani stunting. Kalau anaknya sudah stunting, tidak bisa hanya dengan makan protein hewani," imbuhnya
Selanjutnya, Dr. Nurul mengatakan, terkait penggunaan santan pada makanan MPASI anak, justru sangat dianjurkan sebagai salah satu sumber lemak Hal ini karena otak manusia itu salah satu komponen utamanya adalah lemak.
"Jadi kalau kita mau anaknya cerdas, maka banyak makan ikan, banyak lemak, itu harus diperhatikan juga. Jadi anak di bawah 2 tahun, kita tidak boleh membatasi lemak seperti anak besar," tambahnya.
Selanjutnya, penambahan sayur dan buah juga bisa dilakukan sedikit demi sedikit sesuai dengan pertambahan usia dan berat badan anak tersebut.
Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengusulkan bantuan pangan untuk pengentasan stunting kepada 1,4 juta keluarga berisiko stunting bisa berlanjut di tahun depan.
Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas) Sarwo Edhy mengatakan pihaknya telah mengusulkan anggaran kepada Kementerian Keuangan sebesar Rp 800 miliar untuk mengakomodir program ini.
"Usulan anggarannya (tahun depan) Rp 800 miliar, masih sama dengan tahun 2024," kata Sarwo usai Appreciation Night Program Penyaluran Bantuan Pangan Pengentasan Stunting Tahun 2024, Kamis (17/10) malam.
Sarwo bilang rencananya program ini akan kembali disalurkan di tujuh wilayah provinsi dengan kasus stunting terbesar di Indonesia.
Beberapa wilayah itu di antaranya adalah Sumatra Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurutnya bantuan pangan ini bisa mulai pada awal tahun depan jika anggaran yang diusulkan disetujui. Adapun rencananya penyalurannya dilakukan selama 6 bulan mulai dari Januari-Juni 2025.
"Misal diterima bisa mulai Januari, Februari Maret tahap pertama dan lanjut April, Mei Juni, kalau anggarannya disetujui," pungkas Sarwo.
Sebelumnya, Bapanas menugaskan kepada ID Food untuk penyaluran bantuan pangan pengentasan stunting pada tahun 2024.
Direktur Utama ID FOOD Sis Apik Wijayanto menjelaskan sepanjang 2024, seluruh paket bantuan yang terdiri dari 1 kg daging ayam dan 10 butir telur ayam tersebut didistribusikan kepada 1,4 juta Keluarga Risiko Stunting (KRS) sebagai kelompok penerima manfaat.
1,4 juta KRS tersebut tersebar di 7 provinsi, yaitu Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT),” sebutnya.
Sis Apik mengatakan, pendistribusian bantuan stunting ini dilakukan dalam 2 tahap secara proporsional dengan menyasar penerima yang berada di wilayah perkotaan hingga ke daerah 3 T, sesuai data KRS yang diperoleh dari BKKBN.
Untuk Sumatra Utara terdapat 137.000 penerima (KRS), Banten 92.000 KRS, Jawa Barat 403.000 KRS, Jawa Tengah 345.000 KRS, Jawa Timur 374.000 KRS, Sulawesi Barat 20.000 KRS, dan NTT 73.000 KRS.
"Masing-masing KRS mendapatkan bantuan sebanyak 3 kali dalam setiap tahapan, atau 6 kali dalam satu tahun. Dengan asupan protein hewani secara berkala bagi anak, ibu hamil dan ibu menyusui, diharapkan dapat mengurangi potensi stunting di masa depan,” jelasnya.
Sebagai komitmen mencegah dan menangani kasus stunting, Dinas Perikanan Badung membagikan paket olahan ikan kepada ibu hamil dan balita. - Bagian all [335] url asal
BADUNG, iNews.id - Sebagai komitmen dalam mencegah dan menangani kasus stunting di Badung, Dinas Perikanan Kabupaten Badung melakukan kegiatan pembagian paket olahan ikan dengan menargetkan ibu hamil dan balita yang berpotensi terkena stunting. Kegiatan ini berlangsung di Balai Banjar Seminyak, Desa Adat Seminyak, Kuta, Badung, Kamis (10/10/2024).
Program rutin yang dilakukan pada 2024 ini, merupakan program nasional yang diprioritaskan oleh pemerintah pusat dan diterapkan oleh Dinas Perikanan Badung dengan membagikan sebanyak 150 paket olahan ikan pada setiap lokasi dari delapan wilayah yang dipilih, khususnya di Kabupaten Badung.
Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Badung, Gede Ngurah Sedana menekankan, agar masyarakat terbiasa mengonsumsi ikan, karena memiliki khasiat yang baik untuk tubuh.
“Kegiatan ini sudah dilakukan sebanyak tujuh kali, dan fokus meningkatkan kesadaran masyarakat agar terbiasa mengkonsumsi ikan. Dikarenakan, ikan memiliki kandungan Omega-3 yang baik untuk tumbuh kembang anak dan meningkatkan kecerdasan. Terlebih lagi, harga ikan sangat terjangkau, sehingga siapapun bisa mendapatkannya,” ucap Ngurah Sedana.
Ngurah Sedana juga memastikan untuk ke depan, seluruh masyarakat khususnya ibu hamil dan balita di Kabupaten Badung mendapat paket olahan ikan.
“Kami juga akan menambah jumlah paket olahan ikan kedepannya. Bahkan, merencanakan untuk membagikan paket olahan ikan di seluruh wilayah di Kabupaten Badung pada tahun 2026 jika tidak ada halangan,” ujarnya.
Lurah Seminyak Kuta, I Putu Gede Adhi Karmita Putra mengungkapkan rasa terima kasih kepada Dinas Perikanan Kabupaten Badung dan berharap dapat berkolaborasi untuk mencegah stunting kedepannya.
“Saya sangat berterima kasih kepada Dinas Perikanan Kabupaten Badung sudah membagikan paket olahan ikan kepada warga, khusunya ibu hamil dan balita yang ada di lingkungan Desa Adat Seminyak untuk mencegah stunting di wilayah kami. Kami berharap dapat berkolaborasi dengan Dinas Perikanan dalam menambah paket olahan ikan untuk dibagikan kepada masyarakat Desa Adat Seminyak,” tutur Putu Gede Adhi Karmita Putra.
Tindakan yang dikemas dengan sosialisasi tersebut dihadiri oleh Plt. Ketua TP. PKK Kabupaten Badung, Nyonya Kristiani Suiasa, Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Badung, Gede Ngurah Sedana, Lurah Seminyak, I Putu Gede Adhi Karmita Putra, Ketua TP. PKK Kecamatan Kuta dan pemangku kepentingan lainnya.
Dalam rangka menurunkan angka stunting di Manggarai Barat, NTT, 1.000 Days Fund bersama LINE dan Dinas Kesehatan Manggarai Barat melakukan pelatihan. Dalam rangka... | Halaman Lengkap [536] url asal
JAKARTA - Dalam rangka menurunkan angka stunting di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), 1.000 Days Fund bersama Yayasan Life After Mine (LINE) dan Dinas Kesehatan Manggarai Barat melakukan pelatihan pengelolaan kasus Pendampingan Ibu Hamil Berisiko Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan Anak Berisiko Stunting.
Pelatihan ini dirancang sebagai bagian dari upaya kolektif untuk memperkuat strategi pencegahan stunting di wilayah tersebut, yang menjadi prioritas utama pemerintah dan berbagai organisasi kesehatan.
Dalam pelatihan ini, sebanyak 20 bidan dari berbagai kecamatan di Manggarai Barat mengikuti sesi khusus untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan mereka dalam menangani kasus ibu hamil yang berisiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah, serta mempelajari intervensi efektif yang bisa diterapkan untuk mencegah stunting sejak dini.
Para bidan ini kemudian akan melatih kader Posyandu di wilayah masing-masing, memastikan setiap ibu hamil yang berisiko mendapat perhatian dan pendampingan yang memadai.
Stunting, yang disebabkan oleh gizi buruk dan kondisi kesehatan yang tidak memadai, berdampak pada perkembangan fisik dan kognitif anak. Di Manggarai Barat, angka prevalensi stunting masih tergolong tinggi.
Berdasarkan data terakhir, BBLR merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap stunting pada anak-anak. Oleh karena itu, intervensi yang dimulai sejak masa kehamilan sangat penting dalam upaya menekan angka stunting.
Direktur 1.000 Days Fund dr. Rindang Asmara menyampaikan pentingnya kolaborasi ini dalam memutus siklus stunting. Sejak 2019, pihaknya telah meluncurkan berbagai program untuk pencegahan stunting di Manggarai Barat.
"Kali ini, kami hadir dengan pendekatan baru melalui pendampingan intensif terhadap ibu hamil berisiko BBLR dan anak yang berisiko stunting. Kami berharap pelatihan ini dapat memperkuat kapasitas bidan dan kader Posyandu dalam memberikan pendampingan yang lebih tepat dan berkualitas," jelas dr. Rindang dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu (6/10/2024).
Program ini merupakan langkah awal dari inisiatif jangka panjang yang akan berlangsung selama satu tahun penuh, dengan target dampak langsung terhadap lebih dari 3.000 ibu hamil, anak balita, dan keluarga di Manggarai Barat.
Melalui pendampingan intensif ini, para bidan yang dilatih diharapkan dapat bekerja secara berkelanjutan bersama kader kesehatan di komunitas masing-masing, memastikan pencegahan stunting dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi.
Perlunya Kolaborasi
Ketua Yayasan Life After Mine (LINE) Adri Martowardojo menegaskan pentingnya peran berbagai pihak dalam upaya pencegahan stunting secara berkelanjutan. Menurut dia, stunting adalah masalah multidimensi yang memerlukan komitmen lintas sektor. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, seperti yang dilakukan saat ini, sangat penting.
"Dengan intervensi yang kami lakukan di Kecamatan Boleng dan Kecamatan Sano Nggoang, kami berharap dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap penurunan angka stunting di Manggarai Barat," ujar Adri.
Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Barat Adrianus Ojo memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini. Dia bilang, pencegahan stunting bukan hanya tugas pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi aktif dari berbagai sektor.
Kolaborasi dengan 1000 Days Fund dan Yayasan LINE ini merupakan contoh nyata bagaimana berbagai pihak bisa bekerja sama untuk tujuan yang sama.
"Harapan kami, para bidan dan kader kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan dapat menerapkan pengetahuan ini di lapangan, khususnya dalam pendampingan langsung kepada ibu hamil yang berisiko," ungkap Adrianus.
Pelatihan ini diharapkan dapat menjadi model yang dapat diterapkan di berbagai daerah lain di Indonesia. Inisiatif ini juga sejalan dengan visi nasional untuk menciptakan generasi masa depan yang sehat dan bebas dari stunting, serta memastikan upaya penurunan stunting berjalan secara terukur dan berkelanjutan.
Saat ini, pemerintah aktif mengentaskan stunting dengan melakukan intervensi melalui produk protein hewani yakni susu sapi, daging ayam, dan telur. [1,198] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Langkah kaki Mimin berjalan perlahan, sambil menggendong bayinya berusia 2 tahun dan sandalnya karetnye mulai menipis pada bagian tumit. Ada aroma pesing yang menyengat saat dia berhenti sejenak di warung sembako.
Bobot tubuh Mimin (36) sekitar 40 kg, padahal dia sudah memiliki 6 orang anak. Rambutnya megar, seperti jarang disisir, karena dia lebih banyak menjaga anak-anaknya bermain di teras rumah tetangga. Sesekali dia menarik bagian belakang rambutnya dan menggaruk bagian kepala yang gatal, sambil menggendong bayinya yang berusia 2 tahun.
Dia memiliki anak berusia 18 tahun, 12 tahun, 8 tahun, 6 tahun, 3 tahun, dan 2 tahun. Suaminya hanya buruh lepas harian yang gajian tiap Sabtu, bila menjadi kuli bangunan.
"Susah, punya anak banyak. Kalau kata orang tua dulu, banyak anak, banyak rejeki," ucapnya sambil nyengir. Tampak juga tubuhnya lebih condong ke kiri, karena sambil menggendong bayinya.
Kondisi fisik anak-anak Mimin terlihat lebih kurus dibandingkan anak sebayanya. Dia tidak paham apa itu stunting, baginya anak-anaknya hanya malas makan, meskipun dia terkadang sering menggabungkan sarapan dan jam makan siang anaknya.
Mimin juga menceritakan bahwa anak ketiga dan keempat mendapatkan ASI eksklusif, tetapi badan tetap kurus. Maklum saja, kondisi keuangan Mimin sangat terbatas dan cukup sering makan mi instan, kadang pakai telur, kadang tidak.
Saat ke Posyandu, Mimin juga mengakui sering mendapatkan bantuan susu bubuk 1 kg dari posyandu dan juga biskuit susu dari Kemenkes untuk meningkatkan berat badan anak-anaknya.
Kewalahan mengurus bocaoh, dia mengaku ogah untuk hamil lagi. Namun, kebobolan dan melahirkan anak kelima. Bidan tempat Mimin melahirkan pun iba melihat kondisi keluarganya dan menyarankan agar melakukan steril. Namun, suaminya tidak setuju.
Alhasil, bidan pun memberikan biaya persalinan secara cuma-cuma kepada Mimin saat melahirkan anak kelimanya. Faktor ekonomi yang sulit, membuatnya harus menitipkan anaknya ke rumah mertua, karena dia masih mengemong 2 balita saat itu.
Selang setahun kemudian, Mimin kebobolan lagi. Untuk persalinan anak pertama hingga kelima berjalan lancar dan normal, tetapi untuk persalinan anak keenam, tubuh Mimin melemah dan kekurangan nutrisi. Tidak teratur makan dan kelelahan menjaga anak, sangat nyata dialaminya.
Nyawa Mimin hampir melayang saat melahirkan anak keenam. Pihak keluarga sempat bernegosiasi agar melakukan persalinan normal, tetapi kekuatan Mimin hampir habis dan dokter menyarankan untuk segera melakukan operasi caesar demi menyelamatkan nyawa bayi dan ibu.
Dokter yang menangani operasi Mimin, meminta kepada suami agar menyetujui dilakukan steril kepada Mimin, mengingat masalah kesehatan Mimin saat melahirkan anak keenam. Lantas, suaminya pun setuju.
Ada hal yang berbeda dari anak Mimin yang keenam. Kelima anak Mimin selalu mendapatkan ASI, selalu memiliki bobot badan yang kurang bahkan ada pula anaknya yang berusia 12 tahun, tetapi tingginya sama dengan anak-anak umur 7 tahun. Namun, untuk anak keenam ini, memiliki bobot yang proporsional.
"Anak terakhir ini, enggak ASI. Air susunya saya enggak ada, karena habis operasi. Jadinya, minum susu sapi," ungkapnya.
Dalam kesempatan terpisah, Kader Posyandu Bina Warga 3A di Kaliputih, Desa Citayam, Suryama mengatakan saat ibu-ibu membawa anak-anak ke Posyandu maka pihaknya melakukan pemeriksaan kondisi fisik dan melihat kecukupan nutrisi. Sering sekali, ibu-ibu tidak paham kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan balita.
"Kalau ada anak yang sangat kurang atau masuk dalam kategori pemantauan, maka akan diberikan intervensi seperti susu sapi, roti, telur, dan daging ayam. Faktor jumlah anak dan jarak kehamilan juga menjadi salah satu faktor untuk pemenuhan gizi," kata Suryama.
Menurutnya, saat orang tua melakukan program dalam melahirkan, maka akan lebih mudah dalam mengatur kondisi keuangan dan membagi makanan bergizi di meja makan. Namun, jika jarak kelahiran tidak diatur, maka akan menyebabkan anak kurang mendapatkan perhatian, gizi, dan bisa menyebabkan stunting.
Untuk mencegah stunting, dia memberikan edukasi agar para ibu bisa memberikan telur ayam ke anak yang berusia 6-8 bulan, supaya kebutuhan protein terpenuhi. Caranya, memasak beras menjadi bubur, lalu memasukan 10gram wortel yang sudah diparut, dan telur, lalu diaduk-aduk, masak sampai kental.
Suryama mengungkapkan protein hewani sangat dibutuhkan oleh bayi yang sudah mpasi. Saat di posyandu, dia juga selalu mengedukasi, makanan sehat tidak harus mahal tetapi bisa rutin memberikan telur, memasukan air rebusan ayam ke bubur anak, atau membuat sup ayam wortel untuk balita, agar kebutuhan gizi anak bisa terpenuhi.
Saat ditemui terpisah, Nunung (44 tahun) yang memiliki anak berusia 4 tahun mendapatkan bantuan pemerintah, untuk meningkatkan gizi anaknya. Dia mengaku baru mendapatkan bantuan telur 1 papan dan 1 ekor ayam, yang dibagi setiap bulan.
"Untungnya, anak saya doyan telur dadar dan ini sangat membantu meningkatkan nafsu makan," ungkapnya.
Selain telur, dia memaksimal bantuan ayam yang diterima ke putrinya yang berusia 4 tahun, agar kebutuhan nutrisi selalu terpenuhi, seperti memasak nasi goreng ayam, memasuk sup ayam wortel, dan terkadang membuat ayam semur agar napsu makan anak bertambah.
Makanan mencegah stunting
Saat ini, pemerintah aktif mengentaskan stunting di Indonesia dengan melakukan intervensi melalui produk pangan protein hewani yakni susu sapi, daging ayam, dan telur.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan stunting bisa dicegah, dengan memenuhi kebutuhan gizi 1.000 hari pertama, sejak bayi tumbuh menjadi janin. Pencegahan stunting juga bisa dilakukan dengan memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil.
Menkes Budi menuturkan bahwa saat kebutuhan ibu hamil tercukupi maka asupan gizi ke janin juga terpenuhi. Namun, saat ibu hamil hanya mengonsumsi mi intan dan karbohidrat, tanpa adanya serat sayuran, protein hewani, maka hal ini harus diwaspadai.
"Stunting bisa dideteksi pada kehidupan 9 bulan di kandungan dan 2 tahun. Namun, deteksi stunting yang perlu diperhatikan adalah 1000 hari," ungkapnya baru-baru ini.
Dia menuturkan bahwa hasil penelitian determinan paling besar dalam stunting untuk usia bayi, paling besar di saat hamil dan saat sudah selesai memberikan ASI 6 bulan. Setelah bayi berusia 6 bulan, lanjutnya, bayi membutuhkan protein hewani.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Kemenkes mencatatkan angka stunting di Indonesia masih relatif tinggi yakni 21,5 persen, meskipun sempat turun 0,1 persen dari 2022. Budi menambahkan butuh kerja sama yang baik antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk meminimalisir potensi stunting agar terciptanya generasi emas.
Japfa Bantu Pengentasan Stunting
Mengutip dari laporan berkelanjutan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk., perseroan dikenal sebagai produsen protein hewani dengan pengalaman lebih dari 52 tahun, Japfa ingin berkontribusi dalam menghadapi mengentaskan stunting di Indonesia.
Japfa berkomitmen untuk menyediakan produk pangan berprotein terjangkau di Indonesia berlandaskan kerja sama dan pengalaman teruji, dalam upaya memberikan manfaat bagi seluruh pihak terkait. Perseroan berpegang teguh untuk menyediakan produk pangan berprotein untuk mencegah mal nutrisi pada anak.
Laporan berkelanjutan Japfa mencatatkan bahwa Indonesia menjadi salah satu tingkat negara dengan prevalensi malnutrisi tertinggi di dunia, yakni 3 dari 10 anak mengalami stunting, kondisi kesehatan sebagai akibat kekurangan gizi 2022.
"Sebagai perusahaan penyedia protein hewani, Japfa secara aktif berkontribusi dalam penyediaan pangan yang bergizi dan terjangkau bagi masyarakat dan konsumen," dikutip dari Japfa.
Japfa juga mengentaskan stunting balita melalui program Santosa untuk Anak Nusantara (SAN), khusus anak kurang dari 5 tahun. Perseroan juga berkolaborasi dengan Yayasan Edu Farmers Internasional dalam mengatasi masalah gizi buruk dan gizi kurang.
Melalui program ini, manajemen Japfa bekerja sama dengan pemerintah setempat dan kader Posyandu dalam mendistribusikan telur bersubsidi kepada orang tua yang anaknya mengalami stunting sehingga memudahkan mereka untuk menyediakan telur setiap hari.
Pada tahun 2023, Japfa menaikkan subsidi telur sehingga para orang tua dapat membeli telur dengan harga yang lebih murah. Pada 2023, program SAN telah berhasil menurunkan angka stunting sebesar 17,1 persen di seluruh lokasi SAN beroperasi.
Holding BUMN Pangan atau ID FOOD menargetkan penyaluran Bantuan Pangan Penanganan Stunting (BPPS) di tujuh provinsi bisa rampung pada Oktober 2024. [288] url asal
IDXChannel - Holding BUMN Pangan atau ID FOOD menargetkan penyaluran Bantuan Pangan Penanganan Stunting (BPPS) di tujuh provinsi bisa rampung pada Oktober 2024. Hingga 9 September 2024, realisasi penyaluran mencapai 31,7 persen.
“Sampai dengan posisi tanggal 9 September kemarin dari target 8,6 juta, saat ini sudah tercapai 31,7 persen, dan kami karena program ini sampai Oktober dan bahkan sampai 7 Oktober kami optimis terealisasi sampai dengan 8,6 juta,” ujar Direktur Utama ID FOOD Sis Apik Wijayanto saat rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI, Jakarta, Kamis (12/9/2024).
Dia menyebut, total Keluarga Rawan Stunting (KRS) yang menerima manfaat BPPS di tujuh provinsi sesuai target Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencapai 1,44 juta. Rinciannya, Sumatera Utara 136.738 KRS, Jawa Barat 403.285 KRS.
Kemudian, Jawa Tengah 345.514 KRS, Jawa Timur 374.197 KRS, Banten 92.654 KRS, Nusa Tenggara Timur (NTT) 73.068 KRS, dan Sulawesi Barat 20.633 KRS.
“Program stunting kami mendapat tugas dari Bapanas, yaitu terutama di tujuh Provinsi baik Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, Sulawesi Barat, ini adalah dalam rangka selain untuk membantu program stunting, juga bagaimana menjaga stabilitas harga baik telur maupun ayam di tujuh provinsi tersebut,” kata dia.
Setiap KRS akan menerima satu paket berisi 10 butir telur dan 0,9 sampai 1 kilogram (kg) daging ayam beku (frozen).
“Total penerimaan 1,4 juta, total yang kami terima, ini masing-masing mendapatkan 1 kilogram daging ayam dan 10 butir telur ayam, ini yang mungkin nanti dari Bapanas ada tambahan informasi tentang program stunting, ini yang kami salurkan dan ini ada program yang ditugaskan kepada kami, itu ada di tujuh provinsi tersebut, dan saat ini sudah mulai berjalan,” ujarnya.
Tiga puluh lima kader posyandu Desa Sedari, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, mengikuti pelatihan intensif kesehatan ibu dan anak, dengan fokus pencegahan... | Halaman Lengkap [391] url asal
JAKARTA - Tiga puluh lima kader posyandu Desa Sedari, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, mengikuti pelatihan intensif kesehatan ibu dan anak, dengan fokus pencegahan stunting. Pelatihan, yang diselenggarakan oleh PHE ONWJ ini hasil kerja sama dengan Yayasan Pantura Lestari Mandiri (Paleman), diselenggarakan pada Selasa (30/7).
Stunting merupakan kondisi di mana perkembangan fisik anak tidak optimal disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya asupan gizi. Mengutip dari Kantor Berita Antara, per Februari 2023, angka stunting di Karawang mencapai 2.779 anak. Di Desa Sedari, kasus stunting mencapai 25 anak, gizi buruk 1 anak, gizi kurang 15 anak, dan ibu hamil Kekurangan Energi Kronik (KEK) 3 orang.
Pemerintah Kabupaten Karawang terus mengupayakan penurunan angka ini melalui berbagai program, salah satunya berkolaborasi dengan PHE ONWJ melalui peningkatan kapasitas para kader posyandu.
Dalam pelatihan intensif ini, para kader mendapatkan pengetahuan mendalam tentang tanda-tanda stunting berikut penanganannya, menyusun menu makanan bergizi, serta pentingnya pemberian ASI eksklusif. Selain itu, mereka juga dilatih menggunakan alat ukur untuk memantau pertumbuhan anak secara berkala. Hadir mengisi materi, antara lain tim kesehatan Puskesmas setempat, dan tenaga pengajar dari Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika).
Sebagai bentuk dukungan nyata, PHE ONWJ juga menyerahkan meja dan kursi portabel kepada beberapa posyandu di Desa Sedari. Fasilitas ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan dalam pelaksanaan kegiatan Posyandu.
Pemerintah Desa Sedari dan Kepala Puskesmas Cibuaya, dr. Eva Nurhasanah mengapresiasi PHE ONWJ dan Yayasan Paleman atas kontribusi mereka dalam membantu program pengentasan stunting. ?Niat baik PHE ONWJ ini penting untuk mengoptimalkan peran kader posyandu, demi menyehatkan generasi masa depan kita,? kata Eva.
Sementara itu, Head of Communication, Relations & CID PHE ONWJ, R. Ery Ridwan menuturkan program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung upaya pemerintah dalam mengatasi stunting, dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Selain di Sedari Karawang, tahun ini, PHE ONWJ juga akan melakukan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan sosialisasi kesehatan di Desa Sumberjaya dan Sukajaya Karawang. Kegiatan serupa juga akan dilakukan di Kabupaten Indramayu.
Program penanggulangan stunting dan gizi buruk sudah dijalankan PHE ONWJ sejak 2022. Pada 2023, 66 kader posyandu dari 5 desa pesisir di Karawang telah mendapatkan pelatihan serupa. Sementara tahun 2024 ini, Perusahaan menarget 91 kader posyandu dari tiga desa di Karawang.
?Kami berharap dengan pelatihan ini, para kader dapat lebih percaya diri dan efektif dalam menjalankan tugas mereka, sehingga dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi kesehatan ibu dan anak di Desa Sedari,? kata Ery.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi menilai pencegahan stunting di Indonesia dengan melibatkan ulama akan lebih efektif menurunkan angka stunting dibandingkan dengan hanya mengandalkan pemerintah dan tokoh masyarakat.
"Jadi tidak hanya pemerintah, menjadi tanggung jawab tokoh masyarakat, tapi akan lebih efektif lagi kalau kita juga melibatkan para alim ulama," kata Nurhadi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panitia Kerja (Panja) Pengawasan Percepatan Penurunan Stunting Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa.
Dengan demikian, menurut dia, pemerintah sudah sepatutnya mengajak atau mengikutsertakan ulama di Indonesia untuk melakukan pencegahan stunting.
Berikutnya Nurhadi juga menyoroti persoalan jumlah kasus stunting yang banyak di Bondowoso, Jawa Timur. Menurut dia, salah satu penyebab tingginya angka stunting di Bondowoso adalah pernikahan usia dini.
"Saya juga pernah berkunjung ke Bondowoso, saat itu saya bersama BKKBN. Di Bondowoso itu, cukup tinggi angka stuntingnya. Ini disebabkan oleh pernikahan dini," ujarnya.
Nurhadi menyampaikan pernikahan dini di Bondowoso antara lain terjadi karena perjodohan oleh pihak keluarga.
'Pernikahan dini ini bisa terjadi karena dijodohkan. Jadi peran dari pondok pesantren ini seorang kiai mempunyai anak dijodohkan dengan anak kiai dari pesantren lain," ujar dia.
Terkait dengan keterlibatan pondok pesantren, Nurhadi mengingatkan Kementerian Agama (Kemenag) untuk memaksimalkan edukasi pencegahan stunting di pesantren-pesantren.
Sebelumnya dalam kesempatan yang sama, Kemenag telah menyatakan ikut mengupayakan penurunan angka stunting di Indonesia dengan menghadirkan beragam program edukasi, mulai dari Program Bimbingan Perkawinan, Bimbingan Keluarga, hingga bekerja sama dengan perguruan tinggi.
"Kami memberikan bimbingan, kemudian bimbingan perkawinan, dan bimbingan keluarga. Ini yang kami laksanakan di Kementerian Agama. Kemudian kami kerja sama dengan universitas dan juga ormas keagamaan, bekerja sama dengan perguruan-perguruan tinggi keagamaan," kata Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi menilai pencegahan stunting di Indonesia dengan melibatkan ulama akan lebih efektif menurunkan angka stunting dibandingkan dengan hanya mengandalkan pemerintah dan tokoh masyarakat.
"Jadi tidak hanya pemerintah, menjadi tanggung jawab tokoh masyarakat, tapi akan lebih efektif lagi kalau kita juga melibatkan para alim ulama," kata Nurhadi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panitia Kerja (Panja) Pengawasan Percepatan Penurunan Stunting Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Dengan demikian, menurut dia, pemerintah sudah sepatutnya mengajak atau mengikutsertakan ulama di Indonesia untuk melakukan pencegahan stunting. Berikutnya, Nurhadi menyoroti persoalan banyaknya kasus stunting di Bondowoso, Jawa Timur. Menurut dia, salah satu penyebab tingginya angka stunting di Bondowoso adalah pernikahan usia dini.
"Saya juga pernah berkunjung ke Bondowoso, saat itu saya bersama BKKBN. Di Bondowoso itu, cukup tinggi angka stunting-nya. Ini disebabkan oleh pernikahan dini," ujarnya.
Nurhadi menyampaikan pernikahan dini di Bondowoso antara lain terjadi karena perjodohan oleh pihak keluarga."Pernikahan dini ini bisa terjadi karena dijodohkan. Jadi peran dari pondok pesantren ini seorang kiai mempunyai anak dijodohkan dengan anak kiai dari pesantren lain," ujar dia.
Terkait dengan keterlibatan pondok pesantren, Nurhadi mengingatkan Kementerian Agama (Kemenag) untuk memaksimalkan edukasi pencegahan stunting di pesantren-pesantren.
Sebelumnya dalam kesempatan yang sama, Kemenag telah menyatakan ikut mengupayakan penurunan angka stunting di Indonesia dengan menghadirkan beragam program edukasi, mulai dari Program Bimbingan Perkawinan, Bimbingan Keluarga, hingga bekerja sama dengan perguruan tinggi.
"Kami memberikan bimbingan, kemudian bimbingan perkawinan, dan bimbingan keluarga. Ini yang kami laksanakan di Kementerian Agama. Kemudian kami kerja sama dengan universitas dan juga ormas keagamaan, bekerja sama dengan perguruan-perguruan tinggi keagamaan," kata Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin.