KONTAN.CO.ID - PARIS. Michelin akan menutup dua pabrik di Prancis pada awal 2026. Kondisi ini akan berdampak pada sekitar 1.200 pekerjaan. Ini menjadi pemangkasan terbaru dalam industri otomotif Eropa yang berjuang melawan permintaan yang lesu dan persaingan murah dari Asia.
Serikat pekerja telah memperingatkan kepada para pekerja tentang kemungkinan penutupan pabrik di Cholet dan Vannes di Prancis barat, yang memproduksi ban untuk van kecil dan komponen ban lainnya.
Secara terpisah, pembuat mesin dan suku cadang mobil Jerman Schaeffler pada Selasa (5/11) mengumumkan rencana pada untuk memberhentikan 4.700 orang di Eropa setelah laba operasinya hampir setengahnya pada kuartal ketiga.
Michelin mengatakan pangsa pasar ban mobil, truk ringan, dan tugas berat tingkat pemula telah meningkat secara signifikan selama dekade terakhir, menghantam kategori premium, dan menyebabkan kelebihan kapasitas di beberapa pabrik Michelin.
Perusahaan tersebut mengatakan akan mencatat penyisihan sekitar 330 juta euro setara dengan US$ 360 juta dalam biaya non-berulang dalam laporan keuangan konsolidasinya per 31 Desember.
Tahun lalu, Michelin mengumumkan penutupan dua pabrik ban tugas berat di Jerman dan bulan lalu menurunkan perkiraan laba tahunannya karena perlambatan yang lebih nyata dari yang diharapkan di pasar otomotif pada kuartal ketiga.
Bridgestone Corp. akan menutup pabrik di Lanklaar, Belgia, pada 2025. Penutupan ini akibat restrukturisasi dan penurunan permintaan di Eropa. [206] url asal
Produsen ban asal Jepang, Bridgestone Corp., mengumumkan rencananya untuk menutup pabriknya di Lanklaar, Belgia, sekitar semester pertama tahun 2025.
Melansir dari outlet berita Jepang, Nippon, Sabtu (14/9/2024), penutupan pabrik ini merupakan bagian dari upaya Bridgestone untuk merestrukturisasi operasinya di Eropa yang menghadapi masalah profitabilitas.
Pabrik tersebut dijalankan oleh anak perusahaan Bridgestone, Bandag Europe NV, dengan 111 karyawan. Atas rencana penutupan itu, perusahaan mengaku sudah memberi tahu seluruh pekerja pabrik.
"Bridgestone berencana untuk memberi mereka dukungan yang diperlukan setelah keputusan resmi untuk menutup pabrik tersebut dibuat," tulis Nippon dalam laporannya.
Sementara itu dalam laporan outlet berita Belgia, VRT NWS, dijelaskan perusahaan yang bergerak di bidang produksi ban bus dan truk ini mengambil langkap penutupan pabrik karena tingginya biaya produksi dan menurunnya penjualan.
Menurut manajemen perusahaan, saat ini permintaan suku cadang ban bus dan truk mereka telah turun lebih dari sepertiganya di Eropa, terutama karena banyaknya impor produk yang lebih murah dari Asia Timur.
"Hal ini mengakibatkan kelebihan kapasitas produksi secara signifikan dan meningkatnya biaya produksi yang tidak kompetitif, yang semakin meningkat karena tingginya harga energi dan inflasi," tulis Badag dalam keterangannya.
"Perusahaan sekarang memulai prosedur informasi dan konsultasi dengan maksud untuk menutup pabriknya di Lanklare sekitar paruh pertama tahun 2025." kata perusahaan.
VW mempertimbangkan penutupan pabrik di Jerman untuk pertama kalinya, sebagai langkah pemangkasan biaya di tengah persaingan ketat dengan produsen China. [402] url asal
Volkswagen (VW) dikabarkan tengah mempertimbangkan menutup pabrik mobil di Jerman untuk pertama kalinya. Langkah ini dipercaya merupakan upaya untuk memangkas biaya dan merampingkan pengeluaran.
Dilaporkan Reuters, Volkswagen mempertimbangkan penutupan pabrik di Jerman untuk pertama kalinya lantaran menghadapi persaingan ketat dari produsen mobil asal China. Dalam memo kepada staf, VW mengatakan bahwa mereka tidak dapat mengesampingkan kemungkinan penutupan pabrik di pasar domestiknya atau mengakhiri program jaminan ketenagakerjaannya, yang telah berlaku sejak 1994 dan mencegah pemutusan hubungan kerja hingga 2029.
"Dalam situasi saat ini, bahkan penutupan pabrik di lokasi produksi dan komponen kendaraan tidak dapat lagi dikesampingkan," perusahaan tersebut menyatakan dalam memo tersebut.
CEO Volkswagen Group Oliver Blume, mengatakan industri otomotif Eropa berada dalam situasi yang sangat menantang dan serius.
"Lingkungan ekonomi menjadi lebih sulit, dan pesaing baru memasuki pasar Eropa. Jerman khususnya sebagai lokasi manufaktur semakin tertinggal dalam hal daya saing," kata Oliver Blume.
Merek Volkswagen, yang menyumbang sebagian besar total penjualan produsen mobil tersebut, dilaporkan menjadi merek pertama dalam grup tersebut yang menjalani upaya pemangkasan biaya. VW menargetkan penghematan sebesar €10 miliar pada tahun 2026 karena berupaya merampingkan pengeluaran untuk bertahan dalam transisi ke kendaraan listrik.
Dewan pekerja perusahaan berjanji akan melakukan perlawanan sengit terhadap rencana dewan eksekutif tersebut. Dewan tersebut menambahkan bahwa VW menganggap satu pabrik kendaraan besar dan satu pabrik komponen di Jerman sudah usang.
Volkswagen saat ini telah mempekerjakan sekitar 680.000 staf. VW mengatakan bahwa pihaknya juga merasa terpaksa untuk mengakhiri program keamanan pekerjaannya yang telah berlaku sejak 1994.
Pemerintah Thailand memberikan subsidi mobil listrik, menarik investasi dari produsen China. Di sisi lain, beberapa pabrik mobil merek Jepang tutup. [697] url asal
Pemerintah Thailand jorjoran memberikan insentif untuk mobil listrik. Berkat insentif itu, produsen mobil listrik asal China berbondong-bondong berinvestasi di Thailand. Di sisi lain, beberapa pabrik mobil merek Jepang tutup.
Program subsidi kendaraan listrik di Thailand sudah dimulai sejak 2022 berdasarkan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China. Program itu bertujuan agar mobil listrik lebih terjangkau. Pemerintah Thailand menawarkan subsidi hingga 150.000 baht (sekitar Rp 68 juta) per unit kendaraan listrik.
Perjanjian tersebut juga menghapuskan tarif impor kendaraan listrik asal China yang akan dijual di Thailand. Syaratnya perusahaan itu harus memproduksi mobil listrik di Thailand sejumlah mobil yang telah diimpor sejak 2022. Produksi lokal mobil listrik di Thailand harus dimulai tahun ini.
Dengan kebijakan itu, banyak mobil listrik China yang berinvestasi di Thailand. Salah satu yang terbesar adalah BYD yang baru saja membangun pabrik mobil listrik di Thailand. Investasi pabrik tersebut bernilai US$ 490 juta atau Rp 7,98 triliun.
Di sisi lain, pabrik mobil merek Jepang justru berkurang satu per satu. Suzuki dan Subaru mengumumkan penutupan pabrik mobilnya di Thailand. Honda juga mengumumkan pengurangan produksi di negara tersebut.
Suzuki Motor Corporation (SMC) mengumumkan keputusan untuk menutup pabrik perusahaan otomotifnya di Thailand. Pabrik Suzuki Motor Thailand Co., Ltd. (SMT) akan berhenti beroperasi pada akhir tahun 2025.
"Keputusan ini diambil sebagai bagian dari peninjauan kembali struktur produksi global Suzuki," tulis Suzuki Motor Thailand dikutip dari siaran persnya.
Hal ini sekaligus mengakhiri operasi produksi Suzuki di Thailand yang telah berjalan sejak Maret 2012. Di sana, Suzuki memproduksi sebanyak 60.000 unit untuk penjualan lokal dan ekspor.
Suzuki mengatakan keputusan tersebut merupakan bagian dari peninjauan kembali struktur produksi global mereka. Artinya Suzuki akan memfokuskan produksinya di negara lain di Asia seperti Jepang, India dan Indonesia, pasar di mana Suzuki memiliki basis yang kuat. Hal ini berarti Suzuki akan beralih ke model bisnis importir/distributor di Thailand.
Subaru juga akan menutup pabrik di Thailand. Dikutip Thai Auto News, produksi mobil Subaru di Thailand dijadwalkan akan berakhir pada Desember tahun ini. Sebab, penjualan Subaru di negara tersebut terus menurun.
Penjualan Subaru di Thailand secara bertahap menurun dari rekor 3.952 unit pada tahun 2019. Penjualan pada tahun 2024 diperkirakan akan di bawah 1.000 unit, yang menyebabkan penutupan pabrik.
Penutupan pabrik Subaru di Thailand ini membuat Subaru hanya memiliki satu fasilitas produksi di luar Jepang, yaitu di Amerika Serikat. Sebelumnya, produksi Subaru di Malaysia juga telah dihentikan.
Tak cuma Subaru dan Suzuki, Honda mengumumkan pengurangan produksinya di Thailand. Diberitakan Bangkok Post, Honda Thailand mengatakan berencana untuk berhenti membuat mobil di pabriknya di Ayutthaya dan mengkonsolidasikan semua perakitan di fasilitas Prachin Buri yang diperluas untuk meningkatkan daya saingnya di segmen kendaraan listrik (EV).
Dua pabrik Honda di Thailand memiliki total kapasitas tahunan sebesar 270.000 unit. Namun pabrik itu hanya memproduksi sekitar 150.000 kendaraan pada tahun lalu. Produksi di pabrik Ayutthaya akan dihentikan tahun depan. Menurut Honda, pabrik itu akan dialihfungsikan untuk memproduksi suku cadang.
"Kami tidak melihat pertumbuhan pasar otomotif Thailand sebanyak yang kami harapkan. Kami ingin lebih fokus pada mobil listrik, termasuk kendaraan listrik dan hybrid, serta membuat proses produksi menjadi efisien," ujar juru bicara Honda Thailand dikutip Bangkok Post.
Asia Nikkei mewartakan, langkah yang diambil Honda ini merupakan bagian dari rencana pengurangan produksi tahunan di Thailand menjadi 120.000 unit per tahun. Angka itu turun dari 270.000 unit.