Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menceritakan pengalamannya selama 10 tahun melaksanakan pembangunan infrastruktur di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Menteri PUPR Basuki mengatakan dalam pembangunan infrastruktur selama 10 tahun belakangan ini, dirinya tidak pernah mendapatkan hambatan yang terlalu berat, termasuk dari segi pembiayaan. Pasalnya, program tersebut sudah menjadi prioritas pemerintahan Presiden Jokowi.
Bahkan dia mengaku tidak pernah meminta uang untuk merealisasikan pembangunan infrastruktur.
"Seperti yang sering saya bilang, saya nggak pernah minta uang [untuk infrastruktur], karena yang minta Presidennya langsung, yang merintah kepada Menteri Keuangan," kata Basuki di Kementerian PUPR, Jumat (4/10/2024).
Selain itu, Basuki juga mengatakan bahwa kementerian beberapa kali mendapatkan penugasan langsung dari presiden untuk menjalankan sejumlah program. Misalnya, program perbaikan jalan daerah yang diatur dalam Inpres Jalan Daerah (IJD).
"Bahkan nanti 2025, yang renovasi sekolah pun sudah dilimpahkan ke PU, sebesar Rp20 triliun. Jadi, buat saya, isu pembiayaan [infrastruktur] untuk APBN itu bukan kendala selama pembangunan infrastruktur 10 tahun yang lalu," ujarnya.
Dia pun menjelaskan alasan pemerintahan Jokowi jor-joran membangun proyek infrastruktur. Menurutnya, hal tersebut dilakukan untuk mengejar ketertinggalan.
"Jadi, saya kira apa yang kita lakukan selama 10 tahun belakangan itu baru mengejar ketertinggalan untuk kebutuhan infrastruktur kita," jelas Basuki.
Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur ke depannya tetap membutuhkan dukungan investasi dari BUMN dan swasta.
Kolaborasi antara pemerintah, swasta dan BUMN, imbuhnya, dibutuhkan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di sejumlah daerah.
Dia mengatakan meski sudah banyak proyek infrastruktur yang berhasil terbangun. Namun, capaian tersebut masih jauh jika dibandingkan dengan negara lain.
Basuki memberi contoh bahwa Indonesia saat ini telah memiliki 61 bendungan, tetapi Korea Selatan dan China memiliki lebih banyak bendungan. Dia menyebut Korea Selatan memiliki 19.000 bendungan, sedangkan China punya 98.000 bendungan.
"Pembangunan bendungan itu masih diperlukan banyak sekali. Sekarang ini kelihatannya membangun 61 [bendungan], tapi itu belum apa-apanya dibandingkan dengan negara lain," ujarnya.
Basuki juga menyoroti anggapan bahwa Indonesia sudah cukup banyak membangun jalan tol. Hingga akhir 2024, total panjang jalan tol RI ditargetkan mencapai 3.200 kilometer. Namun, dia menyatakan capaian itu masih jauh tertinggal jika dibandingkan negara lainnya.
"Infrastruktur penting dalam rangka [meningkatkan] investasi, dalam rangka menurunkan logistik, dalam rangka bersaing di dunia global," ucap Basuki.
Basuki menilai pemerintahan selanjutnya masih perlu untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur di sejumlah daerah, khususnya di kawasan timur Indonesia.
Daftar Infrastruktur di Era Jokowi
Sebelumnya, Menteri Basuki menuturkan terdapat dua peran utama infrastruktur. Pertama infrastruktur sebagai sarana produksi dan penunjang pertumbuhan ekonomi, seperti jalan, jalan tol, energi, dan bendungan.
Kedua, infrastruktur sebagai pemenuhan layanan dasar, seperti penyediaan air minum, jalan dan jembatan, perumahan, sanitasi, dan irigasi.
"Infrastruktur dasar sendiri merupakan modal penting untuk mendukung infrastruktur perekonomian," kata Basuki dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (4/10/2024).
Dia merinci, dari bidang sumber daya air, Kementerian PUPR telah merampungkan sebanyak 53 bendungan dari target 61 unit bendungan yang dibangun.
Adapun, bendungan yang telah selesai proses konstruksinya di antaranya Bendungan Sepaku Semoi, Bendungan Ameroro, bendungan Leuwikeris, Bendungan Way Sekampung dan Bendungan Kuningan.
Basuki menuturkan pembangunan sejumlah bendungan dilakukan untuk menyediakan pasokan air baku. Meski demikian, dia mengatakan bahwa pembangunan bendungan tersebut perlu diikuti oleh pembangunan jaringan irigasi. Dengan demikian, air tampungan di bendungan tersebut dapat dimanfaatkan langsung ke masyarakat.
“Untuk itu pada periode 2014-2024 Kementerian PUPR membangun 1.228.440 ha jaringan irigasi dan merehabilitasi 4.647.547 ha jaringan irigasi,” imbuhnya.
Di samping itu Kementerian PUPR juga menyelesaikan 1.371 embung, 493 buah pengendali sedimen dan lahar, 2.154 km pengendali banjir dan pengaman Pantai.
Sementara dari sisi konektivitas, Kementerian PUPR bersama Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) telah menyelesaikan 2.432 km pembangunan jalan tol.
Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Bina Marga juga telah menyelesaikan 5.999 km pembangunan jalan baru, 125.904 m pembangunan jembatan, 583 buah jembatan gantung dan 27.673 m pembangunan flyover/underpass.
Pada bidang permukiman Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya telah menyelesaikan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) 36.380 liter/detik, sehingga akses air minum layak mencapai 93% dari total populasi.
Kemudian, penanganan kawasan permukiman 94.321 ha, penanganan sampah dan sanitasi 13,7 juta KK, sehingga akses sanitasi layak mencapai 82% dari total populasi.
Sementara pada bidang perumahan, Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Perumahan membangun sebanyak 10,2 juta unit rumah dengan kontribusi APBN melalui Program Sejuta Rumah.
Kemudian 1,49 juta unit rumah melalui program Rumah Swadaya/Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), 40.347 unit rumah khusus dan 71.731 unit rumah susun.
Adapun, rusun yang baru saja diresmikan adalah Rusun Universitas Muhammadiyah Sorong yang terdiri dari 1 tower setinggi 3 lantai dengan 43 unit. Rusun ini mampu menampung 168 orang mahasiswa.